contoh tugas KP di UNPAM
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Customer Relationship Management (CRM)
menjadi istilah yang pada beberapa tahun terakhir semakin popular.
Ditambah dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin merambah berbagai
aplikasi bisnis, CRM menjadi salah satu proses bisnis yang menarik untuk
diperbincangkan. Kegiatan marketing mengelola seluruh aspek dari daur hidup
pelanggan. CRM merupakan strategi komprehensif dari perusahaan agar setiap
proses dari daur ulang hidup pelanggan itu dapat dimanfaatkan dengan
optimal.
Pernyataan bahwa pembeli adalah raja
memanglah benar, tetapi perusahaan tidak dapat memberikan pelayanan yang
sama pada semua pelanggan, karena pada kenyataannya tidak semua pelanggan
memberikan keuntungan maksimal kepada perusahaan. Di era globalisai yang
berbasis IT seperti sekarang ini, banyak perusahaan yang menggunakan
berbagai sarana dalam usahanya untuk meningkatkan Customer Relationship
Management (CRM). Secara khusus mereka berusaha memberikan layanan yang
sifatnya personal sehingga dapat memberikan kepuasan yang tinggi pada
pelanggannya, baik sebagai stakeholder maupun shareholder.
Dengan demikian diharapkan akan terjalin
value chain yang kuat di antara mereka melalui customer relationship (hubungan
dengan pelanggan). Untuk dapat meningkatkan CRM, perusahaan tidak segan
melakukan investasi yang cukup mahal dan teknologi canggih yang mampu
memberikan layanan yang maksimal bagi pelanggan.
Di sisi lain banyak perusahaan software
yang menjual dan menawarkan aplikasi sistem ini Web applications seperti e-mail
marketing dan the dot-coms. Menurut Costanzo (2003, p.8), CRM merujuk pada
software system yang membantu perusahaan memperoleh dan menyimpan data
pelanggannya serta melakukan hubungan dua arah. Tetapi saat ini CRM lebih
menekankan pada perubahan kebijakan dan prosedur yang didesain untuk
meningkatkan sales dan customer retention di berbagai lini perusahaan. Oleh
karena itu dalam tulisan ini penulis akan membahas apa yang dimaksud dengan CRM
dan tujuannya, mengapa perusahaan perlu CRM, aplikasi CRM dalam industri
manufaktur dan jasa serta kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan CRM
ini. Customer Relationship Management (CRM) merupakan salah satu sarana untuk
menjalin hubungan yang berkelanjutan antara perusahaan dengan para stakeholder
maupun shareholdernya. Saat ini banyak perusahaan yang memanfaatkan Customer
Relationship Management (CRM) untuk menjalin hubungan dengan pelanggan.
Dengan memanfaatkan CRM, perusahaan akan
mengetahui apa yang diharapkan dan diperlukan pelanggannya sehingga akan
tercipta ikatan emosional yang mampu menciptakan hubungan bisnis yang erat dan
terbuka serta komunikasi dua arah di antara mereka. Dengan demikian kesetiaan
pelanggan dapat dipertahankan dan tidak mudah berpindah ke lain produk dan
merek.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian
CRM ?
2. Apa Tujuan
CRM ?
3. Apa Manfaat
CRM ?
4. Apa sajaTeknologi
pendukung CRM ?
5. Bagaimana
Pendekatan CRM ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui
Pengertian CRM
2. Untuk Mengetahui
Tujuan CRM
3. Untuk Mengetahui
Manfaat CRM
4. Untuk Mengetahui
Teknologi pendukung CRM
5. Untuk Mengetahui
Pendekatan CRM
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian CRM
Definisi dari CRM (Customer Relationship
Management) dalam bahasa Indonesia memiki pengertian dasar, yakni suatu
Management Hubungan Pelanggan atau merupakan suatu strategi pemasaran yang saat
ini sangat banyak dilakukan oleh perusahaan-perusaan yang menginginkan
pelanggan atau konsumen mereka tetap membeli produk atau memakai jasa mereka,
dalam artian umum yakni adalah suatu proses dari beberapa tahapan yang terdiri
dari Indentifikasi, akuisisi, retensi dan pengembangan customer yang memberikan
kontribusi yang besar kepada perusahaan dengan cara memfokuskan strateginya
yaitu dengan cara menjaga hubungan dengan customer secara efektif dan
efisien sehingga
hubungan tersebut menjadi hubungan seumur hidup (“lifetime”)
yang menguntungkan.
CRM sendiri bukanlah sebuah konsep,
melainkan sebuah perubahan paradigma untuk perusahaan-perusahan dimana
CRM itu adalah pola hidup yang bertujuan untuk mengajak customernya menjadi
partner dalam perusahaan tersebut dan berkembang untuk mendapatkan keuntungan
bersama. CRM adalah strategi bisnis yang terdiri dari software dan layanan yang
didesain untuk meningkatkan keuntungan (profit), pendapatan (revenue) dan
kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Caranya adalah dengan membantu
berbagai bentuk perusahaan untuk mengidentifikasi pelanggannya dengan tepat,
memperoleh lebih banyak pelanggan dengan lebih cepat, dan mempertahankan
kesetiaan pelanggannya. ·
Sebuah
sistem CRM harus bisa menjalankan fungsi :
1. Mengidentifikasi
faktor-faktor yang penting bagi pelanggan.
2. Mengusung
falsafah customer-oriented (customer centric)
3. Mengadopsi
pengukuran berdasarkan sudut pandang pelanggan
4. Membangun
proses ujung ke ujung dalam melayani pelanggan.
5. Menyediakan
dukungan pelanggan yang sempurna.
6. Menangani
keluhan/komplain pelanggan.
7. Mencatat
dan mengikuti semua aspek dalam penjualan
8. Membuat
informasi holistik tentang informasi layanan dan penjualan dari pelanggan.
Oleh
karena itu agar sebuah sistem CRM dapat menjalankan fungsinya,maka diperlukan :
1. Perencanaan
bisnis yang matang
2. Mendefinisikan
tujuan dan sasaran dari penerapan CRM
3. Menentukan
batasan-batasan dari CRM menurut strategi yang ditetapkan
4. Menentukan
parameter dan standar pengukuran keberhasilan penerapan CRM
5. Menentukan
standar aturan penanganan strategi berdasarkan informasi dari system CRM seperti
perubahan, perbaikan dan pemantapan strategi.
Namun,
dalam penerapan CRM juga selalu akan mengalami kendala, seperti:
1. Pada
aplikasi TI, terbuangnya feature atau kelebihan-kelebihan yang ditawarkan TI
dengan percuma.
2. Pelanggan
tetap mengeluh.
3. Hubungan
dengan pelanggan tetap transaksional.
4. Tidak
ada peningkatan efisiensi.
5. Staf
sales dan marketing masih saling menyembunyikan data.
6. Keuntungan
perusahaan masih stagnan/ jalan ditempat.
2.2. Tujuan CRM
Tujuan CRM pada dasarnya bertujuan agar
perusahaan dapat mengenali pelanggan secara lebih detail dan melayani
mereka sesuai kebutuhannya. Secara umum, beberapa aktivitas dari konsep CRM
adalah sebagai berikut:
1. Membangun database pelanggan yang kuat
Database pelanggan yang kuat merupakan
kunci utama pelaksanaan CRM. Ada banyak alasan mengapa perusahaan perlu
membangun database pelanggan yang kuat. Pertama, database pelanggan
adalah salah satu asset utama perusahaan, yang juga dapat dihitung performanya
sebagaimana performa finansial yang lain. Kedua, database pelanggan dapat
dijaadikan ukuran tentang “nilai perusahaan sekarang”, dan kemungkinan
performanya di masa mendatang. Untuk membangun database pelanggan,
pada perusahaan yang menangani pelanggan cooperate, mungkin akan lebih mudah
karena jumlah pelanggannya yang lebih terbatas. Tetapi bagi perusahaan
yang menangani pelanggan retail tentu saja akan membutuhkan sistem dan
prosedur pengumpulan database yang lebih kompleks.
Banyak cara yang dilakukan dalam mengumpulkan
database pelanggan. Misalnya, dengan melalui pengembalian kartu garansi
yang harus diisi data lengkap pelanggan, melalui form aplikasi untuk pengajuan
kredit ataupun permintaan suatu layanan, dan yang paling popular tentu saja
dengan mengeluarkan kartu keanggotaan. Beberapa perusahaan retail besar di
Indonesia juga menerbitkan kartu keanggotaan untuk kepentingan pemasaran
mereka. Seperti Matahari yang menerbitkan Matahari Club Card, Makro menerbitkan
kartu anggota Makro, Alfa yang menerbitkan Alfa Family Club, dan belakangan
Carrefour menerbitkan kartu belanja sekaligus berfungsi sebagai kartu kredit
bekerja sama dengan GE Finance.
Beberapa contoh lain di antaranya adalah
Telkomsel yang mengeluarkan layanan SimpatiZone untuk pelanggan pra bayarnya.
Ini dilakukan karena yang terdaftar di Telkomsel tentu saja adalah pelanggan
pasca bayar, sementara pelanggan pra bayar tidak terdaftar profilnya.
Salah satu faktor penting agar pelanggan memberikan data-datanya kepada
perusahaan adalah penawaran benefit untuk pelanggan. Kebanyakan ritel
memberikan reward point dan juga diskon jika mereka menjadi anggota. Telkomsel
memberikan keuntungan kepada pelanggan Simpati jika kartu mereka hilang dan
pelanggan masih dapat memakai nomor yang sama dengan hanya membayar 50% dari
harga kartu. Selain itu, benefit yang dikeluarkan tentu saja perlu memiliki
nilai yang sesuai dengan pelanggan.
2. Membuat
profil dari setiap pelanggan
Langkah tersebut merupakan
pengembangan dari proses segmentasi konsumen yang sudah dilakukan pelanggan.
Profil pelanggan menyangkut segala aktivitas yang dilakukan oleh pelanggan
mengenai penggunaan produk ataupun layanan perusahaan. Profil pelanggan akan
memberikan gambaran tentang kebutuhan, keinginan, dan juga onsentrasi mereka
tentang produk dan layanan perusahaan.
Terdapat 2 hal yang dapat menjadi parameter
perusahaan dalam menentukan profiling pelanggan: pertama adalah usage, dan
kedua adalah uses. Usage disini menyangkut seberapa banyak mereka menggunakan
produk atau layanan perusahaan, kapan menggunakannya, dan produk atau
layanan apa saja yang digunakan. Sedangkan Uses menyangkut bagaimana
pelanggan memakai produk atau jasa perusahaan. Dengan menggabungkan
data-data dan dengan berbagai data pendukung lainnya, profiling semacam ini
memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kebutuhan dan keinginan
pelanggan. Profil inilah yang kemudian dapat dipakai oleh perusahaan
untuk menentukan aktifitas marketing seperti apa yang cocok diaplikasikan
kepada pelanggan.
3. Analisis profitabilitas dari tiap-tiap
pelanggan
Dalam analisis profitabilitas, ada 2 hal
yang akan dinilai dari masing-masing pelanggan. Pertama adalah penerimaan
(revenue) yang dihasilkan dari masing-msain pelanggan, dan kedua adalah biaya
(cost) yang harus dikeluarkan untuk melayani masing-masing pelanggan.
Aspek revenue dapat dilihat dari beberapa
hal: 1. Dari penggunaan produk atau layanan perusahaan yang mereka
konsumsi sekarang. 2. Menghitung seberapa banyak kemungkinan penggunaan produk
atau layanan tersebut pada tahun-tahun mendatang. 3. Kemungkinan penggunaan
produk atau layanan lain yang disediakan perusahaan. Sedangkan dari aspek biaya
yang dihitung adalah mulai dari biaya akusisi hingga biaya untuk mempertahankan
mereka. Satu lagi biaya yang perlu diperhitungkan adalah opportunity cost,
biaya dari kesempatan yang hilang karena melayani pelanggan tersebut.
Dengan menghitung dan membandingan antara
aspek penerimaan dan biaya yang harus dikeluarkan, perusahaan dapat mulai
memilah pelanggan mana yang memberikan keuntungan yang lebih banyak dan mana
yang tidak terlalu memberikan keuntungan yang besar. Pemilahan ini akan menjadi
alat yang penting agar perusahaan dapat memberikan layanan yang sesuai dengan
tingkat profitabiltas dari setiap pelanggan.
4. Interaksi dengan pelanggan yang lebih
targeted dan customized
Dengan profil yang lebih jelas,
perusahaan akan lebih mudah untuk melihat kebutuhan yang berbeda-beda dari
setiap pelanggan. Informasi ini tentu saja akan memudahkan perusahaan untuk
memberikan penawaran tentang produk dan layanan yang disesuaikan kebutuhan
mereka. Dengan tingkat kebutuhan yang dipetakan, perusahaan juga dapat
memberikan komunikasi pemasaran terpadu yang lebih personal dan customized.
Pelanggan akan lebih merasa diperlakukan
secara individual yang tentu saja akan memberikan pengalaman yang lebih menarik
dan mendukung proses kepuasan pelanggan. Dan tentu saja untuk jangka panjang
adalah bagaimana hal tersebut dapat menciptakan loyalitas pelanggan untuk terus
memakai produk atau layanan perusahaan.
Selain aktifitas komunikasi yang lebih
targeted, perusahaan juga dapat memberikan penawaran produk ataupun layanan
yang secara khusus didesain berbeda untuk setiap pelanggan. Dengan
demikian karena perusahaan sudah dapat mengenali kebutuhan pelanggan, tentunya
akan lebih mudah bagi mereka untuk melakukan respon dan
transaksi.
Berhubungan dengan hal tersebut, maka
perusahaan dapat mendesain program loyalitas yang sesuai untuk
pelanggannya. Program loyalitas ini akan sangat membantu perusahaan di dalam
mempertahankan pelanggan, meningkatkan kepuasan, dan menjaga agar pelanggan
tidak tergiur oleh berbagai tawaran yang diberikan kompetitor lain. Program
customer rentention inilah yang menjadi salah satu inti utama dari aktifitas
Customer Relathionship Management (CRM).
Paradigma dan cara berpikir perusahaan
tidak lagi didomonasi pada bagaimana mendapatkan pelanggan baru, tetapi lebih
bagaimana mempertahankan pelanggan lama jauh lebih murah dari biaya untuk
mendapatkan pelanggan baru.
Apalagi, pelanggan lama mempunyai potensi
yang besar bukan hanya dalampenggunaan produk atau layanan perusahaan yang
mereka pakai sekarang, tetapi juga produk dan layanan perusahaan yang lain.
Asal pelanggan puas, perusahaan punya potensi untuk melakukan penjualan
produk atau layanan yang berbeda melalui cross selling ataupun up selling.
2.3. Manfaat
CRM
Adapun
manfaat dalam penggunaan CRM yaitu:
· Jumlah
konsumen yang akan bertambah, karena tujuan utama dari CRM selain mencari
konsumen baru disamping tetap memelihara tingkat kepuasan konsumen yang sudah
ada.
· Mengetahui
tingkat kepemilikan perusahaan pada konsumen, yaitu dengan mengetahui kebutuhan
konsumen.
· Mengetahui
kebutuhan konsumen pada masa yang akan datang, yaitu melalui hasil transaksi
yang sudah dilakukan dan dari hasil analisa data-data transaksi yang sudah
terkumpul.
· Mengetahui
ketidaknormalan pada setiap aktivitas transaksi, yaitu mengetahui tindak
kriminal seperti penipuan dan lain sebagainya
· Mengetahui
perbaikan yang harus dilakukan pada service yang diberikan kepada konsuman.
· Mampu
menganalisa pola data transaksi, sebagai contoh mampu mengetahui kombinasi
produk yang akan dijual pada waktu-waktu tertentu.
· Mengurangi
resiko operasional, yaitu dengan mengetahui prediksi yang akan terjadi dan
kesalahan yang pernah dilakukan melalui customer history.
2.4. Teknologi
pendukung CRM
1.Costumer
Database
Sebuah sistem tak akan pernah berjalan
dengan baik tanpa adanya database. Begitu pula dengan CRM ini. Yang menjadi
tulang punggung dari sistem ini tak lain dan tak bukan adalah database dari
kostumer. Informasi yang diperoleh dari konsumen baik berupa interaksi dengan
perusahaan dan prospek kedepannya akan sangat berharga, termasuk juga
informasi yang diperoleh dari order kostumer, informasi tentang support yang
diberikan, request kostumer, complain, interview dan survey yang telah
diberikan. Bagi sistem CRM kesemua hal itu adalah input yang sangat berharga
bagi perusahaan.
2. Costumer Intelligence
Costumer intelligence adalah sebuah upaya
untuk mengkotak-kotakkan kostumer sesuai dengan needs dan kebutuhannya
masing-masing. Tentu saja hal ini bisa dilakukan dengan bantuan software atau
manual manusia. Setelah ia dikotak-kotakkan kita akan dengan mudah memasukkan
kostumer itu kedalam permainan strategi bisnis perusahaan. Contohnya adalah
pembagian kostumer potensial, kostumer biasa, dan kostumer tak potensial. Ini
akan memudahkan kita untuk mengetahui apakah kostumer itu cukup puas atau
tidak.
3. Costumer Capacity and Competency
Development
Tujuan utama dari teknologi pendukung ini
adalah continous improvement yang memungkinkan perusahaan berada sedikit lebih
dekat dengan apa yang dimaui oleh kostumer. Sistem yang kompleks memang
dibutuhkan untuk mencapai hal ini, tapi bukan hanya itu saja, praktek langsung
jauh lebih powerful untuk mencapai level kepuasan pelanggan yang diinginkan,
kombinasi sempurna dari manusia dan teknologi akan menghasilkansalah satu core
competencies yang memungkinkan perusahaan terus berada di depan dalam
kompetisi CRM. Kesuksesan dalam memilih tools, teknologi, dan praktek langsung
akan kemudian ditiru oleh perusahaan yang lain ketika kombinasi itu terbukti
sukses. Hal ini akan menyebabkan perusahaan kita menjadi market leader dalam
CRM
Tentu saja market leader tak kan dapat
dipertahankan lama bila tak ada perubahan dinamis didalam perusahaan yang
disesuaikan dengan pergerakan keinginan kostumer. Karena kekuatan utama
dari CRM adalah database dari kostumer, maka yang paling bertanggung jawab
dalam penyediaan data ini tak lain adalah front office, yaitu tak lain adalah
sales, marketing, dan juga tak ketinggalan service. Setiap interkasi dengan
kostumer akan dicatat dan masuk dalam sistem kontak history kostumer. Jika
memang dibutuhkan data ini akan bisa diolah kembali untuk kepentingan
perusahaan. Salah satu kelebihan yang diperoleh dari kontak history kostumer
adalah kostumer dapat berinteraksi dengan berbagai macam contact channel di
dalam perusahaan dari waktu ke waktu tanpa harus menjelaskan pada para officer
komplain apa saja yang telah mereka hadapi terdahulu.
Database kostumer didalam CRM dapat
digunakan untuk berbagai macam kegunaan, diantaranya adalah :
1. Mendesain
dan melaksanakan marketing campaign untuk mengoptimalkan eketifitas marketing
2. Mendesain
dan melaksanakan costumer campaign yang spesifik seperti cross selling,
up-selling, dan retensi.
3. Menilai
respon kostumer terhadap produk dan level service, misalnya seperti kenaikan harga,
new product development, dan lainnya.
4. Mengambil
keputusan manajemen seperti forecasting financial dan costumer profitability
analysis
5. Prediksi
terhadap level defect yang tak diinginkan kostumer (churn analysis)
CRM adalah sebuah sistem yang berbasis akan
database kostumer, informasi dari kostumer akan dengan segera diekstrak demi
kepentingan perusahaan. Dalam proses pengumpulan data sebagai bagian dari
solusi CRM, sebuah perusahaan harus mengingat bahwa privasi costumer dan kemanan
data harus menjadi prioritas utama. Beberapa penerap CRM yang baik malah tidak
memperbolehkan data kostumernya di-share atau diakses oleh pihak ketiga.
Dalam hal ini mereka telah melakukan hal
yang benar. Yaitu perlindungan terhadap data dan privasi kostumer.
2.5.
Pendekatan CRM
Ada
beberapa perbedaan pendekatan CRM dengan paket piranti lunak dalam memfokuskan
aspek yang berbeda. Beberapa diantara piranti lunak CRM yang dikenal adalah
seperti berikut.
1.
Operasional.
Operational CRM memberikan dukungan untuk proses
bisnis di front office, seperti untuk penjualan, pemasaran, dan staf
pelayanan. Interaksi dengan pelanggan biasanya disimban dalam sejarak
kontak pelanggan, dan staf dapat melihat kembali informasi pelanggan ketika
dibutuhkan. Dengan sejarah kontak pelanggan ini, staf dapat dengan cepat
memperoleh informasi penting. Dapat meraih pelanggan dalam waktu dan tempat
yang tepat merupakan sesuatu yang sangat diinginkan.
2.
Penjualan.
Untuk penjualan biasa digunakan Sales Force
Automation (SFA). SFA membantu untuk otomatisasi aktivitas yang terkait dengan
staf penjualan, seperti untuk penjadwalan menghubungi pelanggan,
pengiriman surat kertas maupun elektronik ke pelanggarn, menelusuri
respon pelanggan, membuat laporan, menilai tingkat penjualan, proses order
penjualan otomatis.
3.
Analitik.
Analytical CRM menganalisis data pelanggan
untuk berbagai tujuan seperti merancang dan menjalankan kampanye target
pemasaran, termasuk melakukan cross-selling, up-selling, aiatem informasi
manajemen untuk forecasting keuangan dan analisis profitabilitas
pelanggan.
4. Intelijen Penjualan.
Intelijen Penjualan atau Sales Intelligence
dalam CRM adalah sejenis dengan is similar to Analytical CRM, tetapi ditekankan
lebih jauh untuk piranti penjualan langsung dengan fitur untuk mencari peluang
Cross-selling/ Up-selling/ Switch-selling, kinerja penjualan,
kecenderungan pelanggan, margin pelanggan
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Definisi dari CRM (Customer Relationship
Management) dalam bahasa Indonesia memiki pengertian dasar, yakni suatu
Management Hubungan Pelanggan atau merupakan suatu strategi pemasaran yang saat
ini sangat banyak dilakukan oleh perusahaan-perusaan yang menginginkan
pelanggan atau konsumen mereka tetap membeli produk atau memakai jasa mereka,
dalam artian umum yakni adalah suatu proses dari beberapa tahapan yang terdiri
dari Indentifikasi, akuisisi, retensi dan pengembangan customer yang memberikan
kontribusi yang besar kepada perusahaan dengan cara memfokuskan strateginya
yaitu dengan cara menjaga hubungan dengan customer secara efektif dan
efisien sehingga
hubungan tersebut menjadi hubungan seumur hidup (“lifetime”)
yang menguntungkan.
Tujuan CRM pada dasarnya bertujuan agar
perusahaan dapat mengenali pelanggan secara lebih detail dan melayani
mereka sesuai kebutuhannya. Secara umum, beberapa aktivitas dari konsep CRM
adalah sebagai berikut:
1. Membangun database pelanggan
yang kuat
2. Membuat
profil dari setiap pelanggan
3. Analisis profitabilitas dari tiap-tiap
pelanggan
4. Interaksi dengan pelanggan yang lebih
targeted dan customized
3.2. Saran
Dengan
memahami konsep CRM diharapkan kita dapat mengaplikasikannya dalam terhadap
konsumen/pelanggan sehingga target pemasaran dapat tercapai.
DAFTAR PURTAKA
Malthouse, Edward C; Bobby J Calder (2005).
“Relationship Branding and CRM”. in Alice Tybout and Tim Calkins. Kellogg on
Branding. Wiley. pp. 150–168.
Rigby, Darrell K.; Frederick F. Reichheld,
Phil Schefter (2002). “Avoid the four perils of CRM”. Harvard Bisnis Review80
(2): 101–109.
Paul H. Selden (April/May 1996). “SFA Myths
Abound“. Sales and Marketing Strategies & News6 (3): 51 and 53.
Paul H. Selden (November 2000). “The Power
of Quality Thinking In Sales and Management“. Quality Progress: 58-64.
Bligh, Philip; Douglas Turk (2004). CRM
unplugged – releasing CRM’s strategic value. Hoboken: John Wiley & Sons.
ISBN 0-471-48304-4.
Paul H. Selden (1997). Sales Process
Engineering: A Personal Workshop. Milwaukee, WI: ASQ Quality Press. p. 23.


Comments
Post a Comment